Senin, 21 April 2014

Sahabat Juga Manusia

Persahabatan tak selamanya di penuhi dengan saling pengertian.
Bahkan, makna berbagi juga terkadang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Akibatnya, sebuah ketegangan emosi yang terpendam pada individu yang merasa bahwa ia tak mendapat apa yang seharusnya di dapat individu tersebut dari hubungan yang ia jalani bersama sahabatnya.
Yang paling menyakitkan bagi seorang sahabat dari hubungan persahabatan adalah jika seseorang mendatangi sahabatnya hanya untuk didengarkan, diperhatikan, dipenuhi keperluannya, diringankan bebannya, dihapuskan kesedihannya tapi, tak sekalipun mau berbuat yang sebaliknya pada sahabatnya tersebut.
Sahabat bukanlah malaikat penolong yang tak punya rasa, bukan pula benda yang hanya bisa bersuara, memberimu kata-kata, wejangan, mendengar omelan, marahmu bahkan cacianmu begitu saja. Ia sama sepertimu……masih manusia juga.
Lelah…
Capek….
Membuat aku ingin berteriak…
Dia hanya datang padaku saat ada perlunya saja
Apa yang dia butuhkan harus ku penuhi pula
Jika tak ku perhatikan, tegurnya luar biasa
….
Inikah yang di namakan persahabatan…?
….
Aku tak mengerti sama sekali…
Aku capek kalau harus seperti ini
…..
Keluhnya aku tampung
Jika datang dengan masalah, ku hidang ia dengan solusi
Sebagai tamu, ku jamu ia dengan sebaik mungkin, karena aku di ajari untuk memperlakukan orang seperti itu
Ku beri tempat terbaikku
Ku beri apa yang sebenarnya ku inginkan untuk diriku sendiri
Aku mengalah meskipun pada akhirnya aku selalu berada di posisi tak enak
Dan ku tahan teriakanku “Aku ga’ bisa tidur kalau lampunya mati !” demi kenyamananmu…dan meskipun karena itu aku harus pura-pura pulas tidur, dan besoknya bolos kerja lagi karena sangat ngantuk dan jadi badmood perasaanku…
…..
Jika ini persahabatan ? dimana kekuranganku…
….
Pernahlah ia mengundang dirinya sendiri ke rumahku
Katanya mau bikin ikan bakar.
Aku sedang tak punya apa-apa…
Tak ada pemanggang, serta apa saja pelengkap lainya…
Mumpung dia ada dipasar, katanya…..dia tanya aku mau nitip apa ?
Minyak rambut, parfum, pasta gigi dan facial foam.
Dia pun datang dengan belanja pesananku, ditambah dengan beberapa ekor ikan nila, serta beberapa temannya yang lain.
Aku sebenarnya sedang sibuk ngetik tugas dan badmood pula
Masih ku sempatkan untuk menyiapkan piring-piring dan yang lainnya
Kamarku kian berantakan…
Ku layani hari itu dengan lebih cuek dan agak ketus
Pasalnya…
Aku sedang badmood
Rasa ikhlasku terkoyak, bahkan sampai saat ini
Karena aku sedang merasa sebagai orang yang tak pernah memperoleh manfaat dari hubungan ini, bahkan merasa di manfaatkan terus…..
Aku sedang memberontak…
Pada diriku sendiri
Aku merasa…
Apa yang ku lakukan padanya tak berimbang dengan apa yang di lakukannya padaku…
Jika aku datang ke rumahnya, bahkan dengan undangan dia sekalipun…
Aku selalu di biarkan begitu saja….
Melakukan apa yang ku perlu sendiri meski itu bukan rumahku
Jika tak ku dekati dan ku tanya apa perlunya mengajakku ke sana, aku pasti di cuekin sampai mati bosan sendiri dan….dia semakin asyik dengan teman-temannya yang lain….
Hanya untuk nambah orang rupanya….biar ramai gitu…!
……
Ikan bakarnya pun jadi…..
Karena ngetiknya di luar sejak pagi, dan kamar juga parah berantakannnya….tak ku temani dia dan temannya menikmati ikan bakar…
“Bentar lagi aku pulang, nunggu hujan reda. Sabar ya” itu sms-nya
Apa maksudnya coba ?
Kamar ku beri…
Di berantakin juga tak apa…
Dia datang cuma modal ikan dan membelanjakan pesananku (pakai uangku sendiri) juga tak apa….
Padahal…aku sedang badmood dan tak ingin terima tamu pula…
Mereka datang bukan karena ku undang, dan bukan aku yang….
Dan itu tetap tak apa….
Apa yang terjadi setelah mereka pulang….
Kamarku kian berantakan…
Gelas-gelas…piring-piring….
Kantong plastik…
Sisa nasi di kresek yang dia bawa…
Tempat tidur….
Meja….
….
Aku tak minta kamarku di bersihkan…
Tapi, jika aku yang jadi tamu…
Aku pasti malu membiarkannya seperti itu…
Karena aku di ajari orang tua ku untuk memuliakan tuan rumah…
Keikhlasanku sedang di uji sekarang ini
Tapi, ini yang pertama kalinya aku badmood dengan parah sekali
…..
Batinku benar-benar sedang memberontak…
Berteriak-teriak…
Untuk apa menjalin persahabatan jika ternyata aku hanya di manfaatkan…
Untuk apa bersahabat jika hanya menjadi truk sampah
Dan…untuk apa bersahabat….jika aku tak mendapatkan manfaat apapun juga
Masalah-masalahku sendiri tidak tersentuh, apalagi terselesaikan…
…..
Orang-orang yang tak punya tanggung jawab
Yang melempar beban pada orang lain begitu saja
Orang-orang yang mengaku amanah, tapi, mengabai amanah sekehendaknya tanpa rasa berdosa
Orang-orang egois yang berjuang dengan asas pribadi tanpa mau tahu dengan kelanjutan amanahnya pada waktu selanjutnya
Mereka yang meninggalkanku dengan tekanan batin bahwa aku punya hutang dakwah seumur hidupku…
Mereka yang meninggalkanku dan ternyata menjadi lebih baik kehidupannya dan seharusnya bisa berbuat lebih baik dariku tapi melempar amanah yang tersisa padaku
Mereka….
Bahkan aku terkadang merasa sangat menyesal bertemu dan berinteraksi bersama mereka setelah aku tahu….semua yang mereka katakan hanya sebuah omongkosong semata.
Itulah lukaku…
Luka yang membuatku berhenti untuk mengenal dakwah ini lebih dalam lagi…
Aku bukan marah ,tak mau berkontribusi…
Aku juga bukan berencana mati
Tapi, aku sedang berhitung….
Jika harus single fighter, maka aku harus perbaiki diri
Aku harus menakar diri, memupuk kekuatan…
Entah apa yang di sangka orang di luar sana….
……
Berfikir mendalam….
Karena itulah aku selalu berhati-hati dalam memperlakukan teman
Jangan sampai menyakiti ataupun membuatnya merasa terusik
Dan….ku akui, aku banyak belajar psikologi justru dari pengalaman pribadiku dalam menghadapi orang dan mengenali perasaan mereka dalam kondisi tertentu seperti aku mengenali diriku sendiri. Sampai-sampai aku bisa merasa sangat malu pada apa yang diperbuat orang lain, padahal yang berbuat malah muka tembok.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar