Persahabatan
tak selamanya di penuhi dengan saling pengertian.
Bahkan,
makna berbagi juga terkadang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Akibatnya, sebuah ketegangan emosi yang terpendam pada individu yang merasa bahwa
ia tak mendapat apa yang seharusnya di dapat individu tersebut dari hubungan
yang ia jalani bersama sahabatnya.
Yang
paling menyakitkan bagi seorang sahabat dari hubungan persahabatan adalah jika
seseorang mendatangi sahabatnya hanya untuk didengarkan, diperhatikan, dipenuhi
keperluannya, diringankan bebannya, dihapuskan kesedihannya tapi, tak sekalipun
mau berbuat yang sebaliknya pada sahabatnya tersebut.
Sahabat
bukanlah malaikat penolong yang tak punya rasa, bukan pula benda yang hanya
bisa bersuara, memberimu kata-kata, wejangan, mendengar omelan, marahmu bahkan
cacianmu begitu saja. Ia sama sepertimu……masih manusia juga.
Lelah…
Capek….
Membuat
aku ingin berteriak…
Dia
hanya datang padaku saat ada perlunya saja
Apa
yang dia butuhkan harus ku penuhi pula
Jika
tak ku perhatikan, tegurnya luar biasa
….
Inikah
yang di namakan persahabatan…?
….
Aku tak
mengerti sama sekali…
Aku
capek kalau harus seperti ini
…..
Keluhnya
aku tampung
Jika
datang dengan masalah, ku hidang ia dengan solusi
Sebagai
tamu, ku jamu ia dengan sebaik mungkin, karena aku di ajari untuk memperlakukan
orang seperti itu
Ku beri
tempat terbaikku
Ku beri
apa yang sebenarnya ku inginkan untuk diriku sendiri
Aku
mengalah meskipun pada akhirnya aku selalu berada di posisi tak enak
Dan ku
tahan teriakanku “Aku ga’ bisa tidur kalau lampunya mati !” demi
kenyamananmu…dan meskipun karena itu aku harus pura-pura pulas tidur, dan
besoknya bolos kerja lagi karena sangat ngantuk dan jadi badmood perasaanku…
…..
Jika
ini persahabatan ? dimana kekuranganku…
….
Pernahlah
ia mengundang dirinya sendiri ke rumahku
Katanya
mau bikin ikan bakar.
Aku
sedang tak punya apa-apa…
Tak ada
pemanggang, serta apa saja pelengkap lainya…
Mumpung
dia ada dipasar, katanya…..dia tanya aku mau nitip apa ?
Minyak
rambut, parfum, pasta gigi dan facial foam.
Dia pun
datang dengan belanja pesananku, ditambah dengan beberapa ekor ikan nila, serta
beberapa temannya yang lain.
Aku
sebenarnya sedang sibuk ngetik tugas dan badmood pula
Masih
ku sempatkan untuk menyiapkan piring-piring dan yang lainnya
Kamarku
kian berantakan…
Ku
layani hari itu dengan lebih cuek dan agak ketus
Pasalnya…
Aku
sedang badmood
Rasa
ikhlasku terkoyak, bahkan sampai saat ini
Karena
aku sedang merasa sebagai orang yang tak pernah memperoleh manfaat dari
hubungan ini, bahkan merasa di manfaatkan terus…..
Aku
sedang memberontak…
Pada
diriku sendiri
Aku
merasa…
Apa
yang ku lakukan padanya tak berimbang dengan apa yang di lakukannya padaku…
Jika
aku datang ke rumahnya, bahkan dengan undangan dia sekalipun…
Aku
selalu di biarkan begitu saja….
Melakukan
apa yang ku perlu sendiri meski itu bukan rumahku
Jika
tak ku dekati dan ku tanya apa perlunya mengajakku ke sana, aku pasti di cuekin
sampai mati bosan sendiri dan….dia semakin asyik dengan teman-temannya yang
lain….
Hanya
untuk nambah orang rupanya….biar ramai gitu…!
……
Ikan
bakarnya pun jadi…..
Karena
ngetiknya di luar sejak pagi, dan kamar juga parah berantakannnya….tak ku
temani dia dan temannya menikmati ikan bakar…
“Bentar
lagi aku pulang, nunggu hujan reda. Sabar ya” itu sms-nya
Apa
maksudnya coba ?
Kamar
ku beri…
Di
berantakin juga tak apa…
Dia
datang cuma modal ikan dan membelanjakan pesananku (pakai uangku sendiri) juga
tak apa….
Padahal…aku
sedang badmood dan tak ingin terima tamu pula…
Mereka
datang bukan karena ku undang, dan bukan aku yang….
Dan itu
tetap tak apa….
Apa
yang terjadi setelah mereka pulang….
Kamarku
kian berantakan…
Gelas-gelas…piring-piring….
Kantong
plastik…
Sisa
nasi di kresek yang dia bawa…
Tempat
tidur….
Meja….
….
Aku tak
minta kamarku di bersihkan…
Tapi, jika
aku yang jadi tamu…
Aku
pasti malu membiarkannya seperti itu…
Karena
aku di ajari orang tua ku untuk memuliakan tuan rumah…
Keikhlasanku
sedang di uji sekarang ini
Tapi, ini
yang pertama kalinya aku badmood dengan parah sekali
…..
Batinku
benar-benar sedang memberontak…
Berteriak-teriak…
Untuk
apa menjalin persahabatan jika ternyata aku hanya di manfaatkan…
Untuk
apa bersahabat jika hanya menjadi truk sampah
Dan…untuk
apa bersahabat….jika aku tak mendapatkan manfaat apapun juga
Masalah-masalahku
sendiri tidak tersentuh, apalagi terselesaikan…
…..
Orang-orang
yang tak punya tanggung jawab
Yang
melempar beban pada orang lain begitu saja
Orang-orang
yang mengaku amanah, tapi, mengabai amanah sekehendaknya tanpa rasa berdosa
Orang-orang
egois yang berjuang dengan asas pribadi tanpa mau tahu dengan kelanjutan
amanahnya pada waktu selanjutnya
Mereka
yang meninggalkanku dengan tekanan batin bahwa aku punya hutang dakwah seumur
hidupku…
Mereka
yang meninggalkanku dan ternyata menjadi lebih baik kehidupannya dan seharusnya
bisa berbuat lebih baik dariku tapi melempar amanah yang tersisa padaku
Mereka….
Bahkan
aku terkadang merasa sangat menyesal bertemu dan berinteraksi bersama mereka
setelah aku tahu….semua yang mereka katakan hanya sebuah omongkosong semata.
Itulah
lukaku…
Luka
yang membuatku berhenti untuk mengenal dakwah ini lebih dalam lagi…
Aku
bukan marah ,tak mau berkontribusi…
Aku
juga bukan berencana mati
Tapi, aku
sedang berhitung….
Jika
harus single fighter, maka aku harus perbaiki diri
Aku
harus menakar diri, memupuk kekuatan…
Entah
apa yang di sangka orang di luar sana….
……
Berfikir
mendalam….
Karena
itulah aku selalu berhati-hati dalam memperlakukan teman
Jangan
sampai menyakiti ataupun membuatnya merasa terusik
Dan….ku
akui, aku banyak belajar psikologi justru dari pengalaman pribadiku dalam
menghadapi orang dan mengenali perasaan mereka dalam kondisi tertentu seperti
aku mengenali diriku sendiri. Sampai-sampai aku bisa merasa sangat malu pada
apa yang diperbuat orang lain, padahal yang berbuat malah muka tembok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar